Adanya asesmen nasional yang diumumkan pemerintah pada tanggal 6 Oktober oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan bisa meningkatkan kualitas mutu pendidikan di sekolah.

Ujian nasional (UN) yang terkadang menjadi momok menakutkan bagi siswa akan digantikan dengan asesmen nasional.

Apa itu asesmen nasional?

Asesmen nasional merupakan pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah serta program kesetaraan jenjang dasar maupun menengah. Asesmen nasional juga digunakan untuk mengukur penilaian mutu dari setiap sekolah.

Jadi disini terdapat perbedaan antara UN dengan asesmen nasional. Pada asesmen nasional tidak lagi digunakan capaian murid secara individu, namun pada pemetaan input, proses serta hasil sistem pendidikan.

Dampak asesmen nasional bagi siswa

Lalu bagaimana dampak terhadap penerapan asesmen nasional bagi siswa? Apakah ada bedanya dengan UN?.

Untuk lebih jelasnya berikut kami sampaikan dampak asesmen bagi siswa :

– tidak menentukan kelulusan

– tidak diberikan pada akhir jenjang

– Hasil yang didapatkan nilainya tidak dimuat secara individu

Jadi dalam menerapkan asesmen nasional tersebut menurut Kemendikbud,tidak akan melibatkan seluruh siswa. Hanya akan dipilih maksimal 45 anak saja sebagai responden dari setiap sekolah.

Dan hal itu juga yang menjadikan perbedaan dengan UN. Karena UN harus diikuti oleh seluruh siswa di sekolah.

Persiapan mengikuti asesmen nasional

Jangan takut jika nantinya terpilih dari 45 responden yang mengikuti asesmen nasional. Ikuti saja beberapa alurnya dengan baik.

Asesmen nasional sendiri terdapat tiga komponen atau instrumen, diantaranya adalah :

  1. Asesmen Kompetensi Umum (AKM). Ini digunakan untuk mengukur literasi membaca serta numerasi sebagai hasil belajar kognitifnya.
  2. Survei karakter. Hal ini digunakan untuk mengukur tentang sikap, kebiasaan, nili-nilai (values) sebagai hasil belajar non kognitifnya.
  3. Survei lingkungan belajar. Komponen ini digunakan untuk mengukur kualitas pembelajaran serta iklim sekolah untuk menunjang pembelajaran.

Nah jadi jika siswa terpilih menjadi salah seorang responden asesmen, maka akan mengikuti tiga komponen asesmen nasional diatas.

Untuk instrumen AKM, nantinya diperkirakan ada 5 bentuk soal, yaitu :

  1. Pilihan ganda, memilih jawaban benar dari setiap soal.
  2. Pilihan ganda kompleks, siswa akan memilih lebih dari satu jawaban yang benar pada satu soal.
  3. Menjodohkan, siswa akan menarik garis dari sebuah pertanyaan dan sebuah jawaban seseuai dengan pasangan yang tepat.
  4. Isian singkat, siswa akan menjawab dengan bilangan atau kata.
  5. Uraian. Siswa menjawab soal disertai dengan penjelasannya.

Untuk AKM sendiri dilakukan dengan berbasis komputer yang adaptif. Jika siswa menjawab soal dengan benar, maka pertanyaan berikutnya akan lebih kompleks.

Tetapi jika soal yng dijawab salah, maka pada soal berikutnya soalnya akan menjadi lebih sederhana lagi.Dan tentunya hal ini akan lebih menarik bagi siswa.

Pelaksanaan asesmen nasional

Dan apabila nantinya siswa terpilih dari bagian 45 responden tersebut maka siswa akan menghadapi dua tes dan survei.

Untuk tesnya terdiri dari tes literasi dan numerasi. Sedangkan untuk dua survei yang terdapat dalam asesmen terdiri atas survei karakter dan lingkungan belajar.

Dan untuk semua tes serta survei asesmen tersebut dilakukan selama 2 hari. Hari pertama akan berlangsung tes literasi selama 90 menit dan survei karakter selama 30 menit.

Untuk hari keduanya, akan dilangsungkan tes numerasi 90 menit serta survei belajar lingkungan selama 30 menit.

Untuk materinya juga berbeda dengan UN. Pada asesmen, materi literasinya berarti siswa harus bisa menemukan informasi, memahami, mengevaluasi serta merefleksi fiksi.

Sedangkan untuk materi numerasinya akan mencakup bilangan, geometri, pengukuran, aljabar, data dan ketidakpastian.

Jadi itulah beberapa hal yang bisa dijadikan jurus jitu mendapatkan nilai tinggi di asesmen nasional sebagai pengganti dari UN.

 

Leave a Reply

Pendidikan Adalah Aset Berharga untuk Kemajuan Sebuah Peradaban

DAFTAR SISWA